Rabu, 05 Agustus 2015

PERKEMBANGAN GRAFIK DESIGN DI INDONESIA

Wedha Abdul Rasyid

                Wedha Abdul Rasyid adalah seorang Bapak Illustrator Indonesia. Karyanya yang paling terkenal adalah dengan menghadirkan bentuk visual dari Lupus (sebuah novel yang sangat terkenal pada tahun 1980-1990an yang diadaptasi menjadi sebuah novel dari cerita pendek). Bapak Wedha ini juga merupakan seorang illustrator pada majalah remaja Hai. Kontribusinya dalam bidang illustrasi dan seni rupa sangat banyak sehingga beliau sangat di’tua’-kan dalam hal illustrasi.
                 Profesinya sebagai illustrator sudah dikerjakan Wedha sejak tahun 1970-an. Pada tahun 1977, ia bergabung dengan majalah Hai, dan banyak membuat ilustrasi terutama pada karya-karya fiksi Arswendo Atmowiloto dan Hilman. Di majalah itulah, Wedha mengerjakan potret para tokoh dunia dari segala latar belakang. Misalnya seoarang tokoh politik, musisi, seniman, sampai tokoh-tokoh fiktif.
                Pada tahun 1990, Wedha memulai gaya baru untuk pengaplikasian ilustrasi gambar wajah. Hal ini menurutnya dikarenakan penurunan daya penglihatannya karena usia yang telah mencapai 40 tahun sehingga ia sulit menggambar wajah dalam bentuk realistis dan detail. Beliau kemudian mencoba ilustrasi dengan bergaya kubisme. Gaya ini kemudian tumbuh dan semakin populer sebagai bagian dari gaya pop art bahkan hingga sampai saat ini.Ia menyebut gaya aliran ilustrasi ini adalah Wedha’s Pop Art Potrait (WPAP), bahkan ada yang menyebutnya sebagai aliran Wedhaism.
                Wedha memiliki bentuk dan tekhnik yang khas. Beliau menggambarkan wajah para tokoh dengan menusunnya dalam mosaik warna yang dipecah menurut faset-fasetnya. Tekhniknya lebih menggabungkan ragam warna yang harmonis, sehingga membentuk tokoh yang digambarkan. Meski hasil karyanya tidak detail, namun mampu mewakili karakter wajah dengan sangat baik.
                Anda akan dapat mengenali wajah-wajah mendunia, seperti Mick Jagger, Jimmy Hendrix, Jim Morrison, The Beatles, Elvis Presley, Sting, Bono, Queen. Ada juga tokoh-tokoh politikus seperti, JFK, Bung Karno, Indira Gandhi, Benazir Buttho, Fidel Castro, Ahmadinejad. Ada pula potret Rendra, Slank, Jakob Oetama, John Lenon sampai Andy Warhol.  
               
Contoh berbagai macam jenis ilustrasi pop art yang menggunakan teknik WPAP:
 
Andy Warhol

James Dean
Pearl Jam

Shakira

Sting
The Beatles

The Beatles

wedha abdul rasyid pop art


Selasa, 04 Agustus 2015

CARA MEMASANG LAGU DI BLOG "PILIH SENDIRI"

Cara Memasang Musik di Blog ini saya sajikan khusus sesuai keinginan pemiliknya / Lagu Pilih Sendiri , 
berikut ini Cara Memasang Musik di Blog (Lagu Pilih Sendiri) :
1. Anda harus pergi ke alamat http://www.divine-music.info/ dan jika ingin tutorial blog yang keren,
2. Setelah itu anda tinggal memilih nama band yang anda suka , contoh "planet ajaib" akan memilih "Bruno Mars"
3. Setelah itu pilihlah salah satu judul lagu yang anda suka.
4. Kemudian , Copy dan Paste kode yang telah disediakan
 
5. Lalu letakan kode yang telah di copas di Dasbor Blogger > Tata Letak > Tambahkan Gadget
6. Simpan / Save dan lihat hasilnya
Demikianlah postingan kali ini tentang Cara Memasang Musik di Blog (Lagu Pilih Sendiri) , semoga postingan ini bisa dimengerti dan bermanfaat , Wassalamulaikum.

PEMBUAT ALIRAN WPAP



Wedha Abdul Rasyid: Pembuat Aliran WPAP (Wedha’s Pop Art Potrait)


Buat kamu yang pernah muda di era tahun 1980 dan 1990-an pasti kenal dengan yang namanya Lupus, tokoh fiksi karangan Hilman Hariwijaya, salah seorang penulis ternama pada masa itu. Pada awal kemunculannya, lupus adalah sebuah cerpen yang ditulis Hilman untuk majalah Hai di tahun 1986.
Cerpen Lupus ternyata mendapat respons yang sangat bagus di kalangan remaja karena ceritanya yang lucu dengan karakter-karakter yang unik. Lupus kemudian dijadikan novel yang membuatnya terkenal hingga ke seantero Indonesia bahkan sampai dengan saat ini.
Membahas tentang Lupus, rasanya tidak afdhol kalau tidak memperkenalkan sang illustrator yang telah menghadirkan Lupus secara visual ke pembaca. Beliau adalah Wedha Abdul Rasyid, seorang illustrator di majalah remaja  Hai yang juga sering disebut-sebut sebagai Bapak Illustrator Indonesia karena kontribusi dan karya-karyanya di bidang illustrasi dan seni rupa.
Profesi sebagai illustrator sudah dikerjakan Wedha yang malang melintang di media cetak sejak tahun 1970-an. Mulai 1977, ketika bergabung dengan majalah Hai, ia banyak membuat ilustrasi terutama karya-karya fiksi Arswendo Atmowiloto dan Hilman dengan Lupus-nya yang fenomenal. Di majalah itulah Wedha mengerjakan potret para tokoh dunia dari segala latar belakang: tokoh politik, musisi, seniman, sampai tokoh-tokoh fiktif.
Pada tahun 1990, Wedha kemudian memulai style baru untuk illustrasi gambar wajah. Hal ini menurutnya dikarenakan penurunan daya penglihatan karena usia yang telah mencapai 40 tahun sehingga ia sulit menggambar wajah dalam bentuk yang realistis dan detail. Wedha kemudian mencoba illustrasi bergaya kubisme untuk gambarnya. Gaya ini kemudian tumbuh dan semakin populer sebagai bagian dari gaya popart bahkan hingga dengan saat ini. Gaya illustrasi ini disebut Wedha’s Pop Art Potrait (WPAP), bahkan ada yang menyebutnya sebagai aliran Wedhaism.
Lihat karya-karya Wedha. Bentuk dan tekniknya khas, ia gambarkan wajah para tokoh itu disusun dalam mosaik warna yang dipecah menurut faset-fasetnya. Bukan dalam pengertian kubisme, tapi lebih menggabungkan ragam warna yang harmonis sehingga membentuk tokoh yang digambarkan. Meski karyanya tidak detail, namun mampu mewakili karakter wajah dengan sangat baik.
Anda akan dapat mengenali wajah-wajah mendunia, seperti Mick Jagger, Jimmy Hendrix, Jim Morrison, The Beatles, Elvis Presley, Sting, Bono, Queen, sampai tokoh politikus sebut saja JFK, Bung Karno, Indira Gandhi, Benazir Buttho, Fidel Castro, Ahmadinejad. Juga potret Rendra, Slank, Jakob Oetama, John Lennon sampai Andy Warhol. Setelah 30 tahun berkiprah dalam dunia ilustrasi Wedha mengakhiri masa kerjanya di Kompas Gramedia.
Sumber: dgi Indonesia, DesainStudio

MENGUASAI TEKNIK WPAP DALAM SEKEJAP

Menguasai Teknik WPAP Dalam Sekejap



WPAP (Wedha’s Pop Art Potrait) atau Pop Art nya Pak Weda adalah Teknik ilustrasi portrait (potret) pop art dengan dominasi bidang - bidang datar yang dibentuk oleh garis - garis imaginer seperti segitiga, kotak, jajar genjang, trapesium, belah ketupat, persegi, dll yang kaya warna pada depan, tengah, belakang sehingga membentuk dimensi. Tidak ada batasan untuk Teknik WPAP karena Teknik ini adalah Teknik tracing kreatif dan cenderung permainan pola yang imaginatif.
WPAP ditemukan dan dikembangkan oleh Bapak Wedha Abdul Rasyid, seorang illustrator profesional dari Indonesia yang juga sering disebut-sebut sebagai Bapak Illustrator Indonesia karena kontribusi dan berbagai karya di bidang illustrasi dan seni rupa.
wedha WPAP
Gambar : Pak Weda
Beriku ini contoh - contoh karya WPAP beliau :
karya wpap
Gambar : WPAP tokoh mulai dari Beckham hingga Obama, bahkan Tukul Arwana

Wah Keren! Bagaimana cara bikin WPAP?

ok, atas permintaan teman saya juga yang ada di Purworejo, berikut saya berikan Tutorial secara mendasar dan garis besar cara membuat WPAP di Coreldraw agar bisa anda kuasai dalam sekejap :
1. Buka aplikasi coreldraw, Bisa menggunakan Versi berapapun. Cuma disini saya menggunakan Corel X7 agar lebih update.
2. Masukkan tokoh / object yang akan kita pop art portrait (WPAP). Disini bisa juga pakai foto anda, keluarga, istri, anak, ponakan, mantan, dll. Sebagai contoh saya akan membuat WPAP salah satu tokoh idola saya. "Minta ijin pakai fotonya ya bu Risma, buat sharing / pembelajaran ilmu desain grafis WPAP". "Oh iya nak, silahkan" :
wpap risma
Gambar : Bu Risma
3. Kunci dari pembuatan WPAP adalah anda harus bisa / terbiasa menggunakan Pen Tool untuk membuat polanya adalah intinya kotak bersudut serta permainan warna. Bagi yang senang tracing object tentu tidak akan kesulitan. Apa itu Tracing? sudah ada tutorialnya, silahkan Teknik Tracing. Berikut ini tips dan trik WPAP

Penjelasan dalam hal Tracing di WPAP?

Seperti yang dijelaskan di atas, tidak ada batasan tentang garis - garis imaginer yang dibuat, ciri khas wpap adalah garis - garis asimetris, kotak dan bersudut lancip yang membentuk dimensi dan pola wajah object.

Penjelasan dalam hal Pemilihan Warna di WPAP?

Keindahan Teknik Wpap terletak juga pada pemilihan warna yang baik, untuk membentuk dimensi wajah seseorang perlu adanya penekanan pada warna cerah (muda) - gelap (tua). Tipsnya adalah ikuti aturan main dari pencahayaan asli di gambar, misal pada bagian yang terang maka gunakan warna - warna terang (muda) misal kuning, hijau muda, pink, biru muda, dll. Sedangkan untuk bagian yang pencahayaannya gelap maka berikan warna yang berkarakter gelap pula misal hitam, biru, merah tua, coklat, hijau tua, ungu.
4. Buat object garis lurus dan berkotak pada object, pertama - tama saya contohkan membuat area bibirnya.
Untuk membuatnya langkahnya adalah kita transparasi dulu gambarnya agar kelihatan sedikit transparan sehingga bangun yang kita buat dengan Pen Tool mudah untuk dilihat. (ikuti langkah 1. Klik Transparency Tool, 2. Klik Uniform Transperency, 3. Klik besaran nilai transparency , disini saya memakai 55 (nilai ini tidak mengikat, tergantung kebutuhan anda).
wpap risma
Nah lihat area bibir, mata, alis. Bikin bangun segi berapapun serta kotak - kotak yang banyak namun tetap mengikuti alur wajah, ikuti pencahayaan dan karakteristik object. misal object memiliki guratan atau cekungan maka buat seolah kotak tersebut berdimensi pada alur guratan foto.
Intinya coba dan coba, jangan segan menghapus jika memang bangun yang anda buat tidak pas dengan feeling anda. terus mencoba hingga sesuai dengan keinginan. Sering - sering ber eksperiment untuk menghasilkan sketsa wpap yang pas.
Tips mengendalikan kotak - kotaknya : Tekan kotak / bangun lalu gunakan perintah di bawah ini
a) Ctrl + Page Up = untuk menaikkan 1 tingkat (layer) - send to forward
b) Ctrl + Page Down = untuk menurunkan 1 tingkat (layer) - send to backward
c) Shift + Page Up = untuk menaikkan ke layer paling atas / depan (Send To Front)
d) Shift + Page Down = untuk menurunkan ke layer paling bawah / belakang (Send To Back)
Karena ini disain kreatif jadi tidak ada pakem / aturan yang mengikat. Tergantung imajinasi dan feeling anda, yang penting detil dari object jangan sampai hilang. Contoh : Bagian Bibir, Mata, Bentuk Wajah, Hidung, Kerutan, dll. usahakan tetap mencerminkan object yang diedit. Set.. Set.. Set.. 30 Menit kemudian... Jadilah seperti ini :
wpap portrait
Jika sudah selesai silahkan seleksi semuanya lalu tekan tanda (klik kanan) X di color pallete untuk menghilangkan outline pada garis.
5. Tambahkan Background dan beri pernak pernik untuk memperbagus WPAP nya.
wpap tutorial risma edition
Gambar : Hasil Tracing WPAP
Demikian tutorial cara cepat belajar WPAP dengan model tokoh walikota Surabaya yaitu Ibu Risma, semoga bermanfaat bagi para pengunjung ilmugrafis dimanapun anda berada. Terima kasih, semoga bermanfaat.

APA ITU WPAP DAN SEJARAH SINGKAT WPAP

Apa Itu WPAP dan Sejarah Singkat

Apa Itu WPAP wedha's Pop Art Potrait
WPAP merupakan singkatan dari Wedha's Pop Art Potrait adalah gaya seni pop art yang dipopulerkan oleh Wedha Abdul Rasyid yang sekaligus pembuat aliran ini. WPAP dahulu bernama FMB ( Foto Marak Berkotak ). Secara teknik, WPAP mempunyai ciri khas tertentu dalam penggambaran objek, dimana dalam WPAP anda akan menemukan bidang berkotak-kotak dan penuh dengan warna-warni antar bidang tanpa menghilangkan karakter objek atau model yang digambar. Dalam WPAP anda pasti tidak akan menemukan bidang-bidang lengkung sebab itulah WPAP mempunyai ciri khas tertentu yang membuat WPAP mempunyai keunikan tersendiri dalam segi teknik pembuatan.

Sejarah Singkat WPAP

Dimulai sekitar tahun 1990-1991 berawal dari kegelisahan menggambar sosok manusia yang realis karena seiring bertambahnya usia. Menurut Wedha, gambar sosok manusia realis mempunyai tingkat kesulitan paling tinggi di tambah dengan faktor memilih, mencampur warna menjadi hal yang menyulitkan. Kemiripan warna kulit manusia, kehalusan goresan, menjadi sesuatu yang mahal bagi Wedha. 

Dari kegelisahaan itulah, Wedha mulai memikirkan cara melukis sosok manusia dengan cara yang lebih mudah dengan mengutak atik titik, garis dan bidang. Berawal dari situ mulailah Wedha membayangkan gambar sosok manusia sebagai kumpulan bidang-bidang datar yang dibentuk oleh garis-garis imajiner.
Sebelum menemukan cara membuat seperti sekarang ini dimana teknologi sangat membantu mempermudah dalam pembuatan WPAP Wedha harus melalui proses yang begitu panjang dari membuat WPAP dengan manual sampai ke digital pada era sekarang ini.

Berikut ini adalah proses WPAP yang dilalui pak Wedha Abdul Rasyid Dari Masa Ke masa

Sejarah WPAP 1

Sejarah WPAP 3












Sejarah WPAP 4

Demikianlah sedikit tentang apa itu wpap dan sejarah singkat wpap yang dirujuk dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat.

Senin, 03 Agustus 2015

kenangan IK_08


PESAN DAN KESAN SAAT BELAJAR DI WIDYA INFORMATIKA





PESAN DAN KESAN

Kesan :

Widya Informatika telah banyak memberikan pelajaran kepada saya, Tempat ini telah membentuk saya menjadi karakter yang jauh lebih baik daripada sebelumnya.
Ini semua karena para Instruktur yang selalu ada untuk membimbing saya, menunjukkan pada saya yang mana yang benar dan mana yang salah.
Selain itu, teman-teman juga sangat bermakna buat saya. Tanpa mereka, saya bukanlah siapa-siapa. Saya yakin besok atau lusa saya akan sangat merindukan kebersamaan kita selama ini di Widya Informatika.Di sini saya banyak belajar dari teman - teman saya di kelas IK-08,IK-05,dan IK-04,banyak yang kami harungi bersama saat suka dan duka...thank you my friends


Pesan : 


Untuk instruktur - instruktur semua, terima kasih atas segala jasa dan baktimu, saya tahu saya punya banyak salah, oleh karna itu maafkan semua kesalahanku, halalkan ilmu-ilmu yang telah kau berikan padaku. Semoga Tuhan membalasmu dengan ganjaran yang berlipat kali ganda.


Kritik dan Saran :

Semoga Widya Informatika menjadi pusat pendidikan komputer yang mencetak siswa - siswi yang punya potensi dan skill yang mantap di dunia kerja...Sukses Untuk Widya Informatika








Created By. Azri Safwan

editing menggunakan pizap "editor foto online"



Cara membuat animasi Cursor


Bosen dengan tampilan cursor biasa di website atau di blogger ini disini saya berbagi cara membuat memasang animasi cursor keren buat percantik blogger atau website anda ada banyak macam-macam animasi cursor untuk diblog saya tinggal anda pilih sesuai selera anda atau anda sukai langsung saja caranya  :

langkah - langkah nya :

1.Login ke blogger anda
2. Pilih Laman
3.Pilih Tata Letak
4.klik Tambah Gadget Html/JavaScript
5.Copy & paste kan kode html mouse yang diinginkan di bawah ini
6.Terakhir Simpan  


 kode nya : 
  

Spongebob  
<style type="text/css">body, a:hover {cursor: url(http://cur.cursors-4u.net/toons/too-12/too1107.cur), progress !important;}</style><a href="http://programmkomputer.blogspot.com/p/animasi-cursor-di-blog.html" target="_blank" title="SpongeBob SquarePants"><img src="http://cur.cursors-4u.net/cursor.png" border="0" alt="SpongeBob SquarePants" style="position:absolute; top: 0px; right: 0px;" /></a>



Mr.Crab
<style type="text/css">body, a:hover {cursor: url(http://cur.cursors-4u.net/toons/too-12/too1104.cur), progress !important;}</style><a href="http://programmkomputer.blogspot.com/p/animasi-cursor-di-blog.html" target="_blank" title="SpongeBob SquarePants Mr. Krabs"><img src="http://cur.cursors-4u.net/cursor.png" border="0" alt="SpongeBob SquarePants Mr. Krabs" style="position:absolute; top: 0px; right: 0px;" /></a>









Mouse Pelangi
<style type="text/css">body, a:hover {cursor: url(http://cur.cursors-4u.net/cursors/cur-1/cur18.ani), url(http://cur.cursors-4u.net/cursors/cur-1/cur18.png), progress !important;}</style><a href="http://programmkomputer.blogspot.com/p/animasi-cursor-di-blog.html" target="_blank" title="Wavy Tail"><img src="http://cur.cursors-4u.net/cursor.png" border="0" alt="Wavy Tail" style="position:absolute; top: 0px; right: 0px;" /></a>  

Langkah-Langkah Memasang Animasi Jam Di Blog

Langsung aja kita mulai..!!!

Caranya :

1. Masuk ke Dasbor
2. Pilih Tata Letak
3. Tambah Gadget / Add as Target
4. Pilih HTML/Java Script

Ni kode nya

Green bay packers clock

<img style="visibility:hidden;width:0px;height:0px;" border=0 width=0 height=0 src="http://c.gigcount.com/wildfire/IMP/CXNID=2000002.0NXC/bT*xJmx*PTEzODQ*MTczMjc2MDkmcHQ9MTM4NDQxNzMzNzM3MiZwPTIyMzA1MiZkPSZnPTEmbz*1MzAxY2Q5ZjNkZjk*NzljYjY*/ZDQ2NzliYzNhZjc*ZCZvZj*w.gif" /><embed allowScriptAccess="never" src="http://widgia.com/widgets/green_bay_packers/packers.swf" quality="high" width="250" height="250"></embed><br /><a href="http://widgia.com/category/clockcountdown-widgets/" target="_blank">ivank gribatako.blogspot</a>


3D rotating clock

<img style="visibility:hidden;width:0px;height:0px;" border=0 width=0 height=0 src="http://c.gigcount.com/wildfire/IMP/CXNID=2000002.0NXC/bT*xJmx*PTEzODQ*MTc*ODgxNzMmcHQ9MTM4NDQxNzUwNjI5NSZwPTIyMzA1MiZkPSZnPTEmbz*1MzAxY2Q5ZjNkZjk*NzljYjY*/ZDQ2NzliYzNhZjc*ZCZvZj*w.gif" /><embed allowScriptAccess="never" src="http://www.glittertools.com/v2sourcefiles/07njlwQjDJdPE3x/wrapper.swf?fullpath=http://www.glittertools.com/v2sourcefiles/07njlwQjDJdPE3x/&showEmbedShare=no&keyValue=07njlwQjDJdPE3x&swfWidth=320&swfHeight=240&mainSwfFile=main.swf" quality="high" width="320" height="240"></embed><br /><a href="http://widgia.com/category/clockcountdown-widgets/" target="_blank">ivank gribatako.blogspot</a>

   atau cari aja di mbah google..banyak lho
 

Minggu, 02 Agustus 2015

Tutorial WPAP Corel Draw

Tutorial WPAP Corel Draw - 3 Langkah Membuat WPAP

tutorial wpap

Pada tutorial kali ini saya akan share bagaimana cara saya membuat gambar vector dengan gaya Wedha's Pop Art Potrait (WPAP). Saya mengelompokkannya menjadi 3 langkah membuat WPAP dengan corel draw.

1. Pengaturan Tool

Untuk mempermudah dalam pembuatan wpap, sebaiknya anda melakukan pengaturan tool, pengaturannya sebagai berikut.

- Buka objek foto yang akan dijadikan WPAP

iwan fals photo/foto
 sumber foto : google search

- Seleksi foto, klik bitmap - Mode - CMYK (32-bit )
- Klik kanan pada foto lalu pilih lock object
- Buat layer baru dengan mengaktifkan jendela object manager dengan cara klik window - dockers - klik pada object manager. lalu klik bagian bawak dari jendela object manager tersebut pilih new layer.

 
-Membuat Shorcut key untuk tool-tool yang sering dipakai, seperti Bazier, eyedropper, dan pain bucket, caranya lihat disini
-Tinggal satu lagi pengaturan toolnya agar mempermudah dalam pengerjaan WPAP, klik view lalu beri centang untuk snap to object dan Dynamic guides. snap to object gunanya untuk melekatkan bidang satu ke bidang lain, sedangkan dynamic guides adalah garis bantu otomatis yang akan keluar saat melakukan tracing.

2. Tracing foto tanpa kurva atau tanpa bidang lengkung

Kenapa saya katakan begitu, karena letak khas dari WPAP salah satunya adalah tracing bidangnya tidak ada bidang lengkung.
nah disitu keunikan tracing bidang wpap, selain penggunaan warna-warna berlawanan antar bidang.

Saatnya mulaitracing manual object foto menjadi wpap.
- Mulailah bagian yang terpenting terlebih dahulu seperti mata - bibir dan hidung. Dengan membuat bidang global kemudian diisi dengan bidang hight light, midtone, shadow dan lakukan dengan teknik intersect, lihat disini cara penggunaan intersect.

warna/tutorial wpap
jika sudah terbentuk bidangnya, isi dengan mangambil sampel warna eyedropper dan menyiramnya dengan paint bucket.

- Silahkan anda lanjutkan tracing bidangnya, yang perlu diingat adalah tidak ada bidang yang lengkung dan sudut- sudut nanggung diluruskan saja. saya rasa anda sudah terbantu dengan mengaktifkan dynamic guides.

Tutorial wpap/tutorial 
- Setelah 3 bagian tersebut selesai,buat bidang rambutnya, caranya hampir sama dengan cara diatas.
 
Bidang rambut sudah selesai, maka karakter objeknya sudah kelihatan, untuk memperkuat karakter objek, silahkan tambah tracing bidang-bidang lain sesuai dengan terang gelapnya warna.

wpap vector/tutorial 
buang outlinenya sekarang tinggal kasih warna-warna pop dan kasih sedikit sentuhan background.

3. Mewarnai Objek yang sudah di tracing dengan warna-warna berseberangan atau warna-warna pop.  

Silahkan anda aktifkan jendela color  dan atur settingannya seperti gambar dibawah ini

Tutorial wpap/warna

Tukar warna objek skine tone tadi dengan mengklik bidang yang diwarnai, lalu pada jendela color geser-geser tombol pemilihan warna, sehingga warnanya pas dan harmoni. perlu diingat, warna yang dipakai warna pop.


Kalau bingung mencari sendiri warna pop tersebut, saya sudah sediakan palet warna pop art, silahkan intip disini dan disini

Senin, 27 Juli 2015

KOMPETISI WPAP 2015: SEABAD BASOEKI ABDULLAH

Design Grafis Indonesia

Wedha’s Pop Art Portrait

Oleh: Wedha





Embrio gaya ini saya mulai pada sekitar tahun 1990-1991. Memasuki usia 40 tahun, terlahir 10 Maret 1951, ketika itu saya sudah merasakan menurunnya fungsi mata saya. Ditambah lagi sebagai seorang yang kurang sekali mengindahkan gaya hidup sehat, saya mulai merasa terlalu cepat lelah. Kendala fisik itu mulai mengganggu setiap kali saya harus menyelesaikan gambar, apalagi gambar sosok manusia realis yang menurut saya bertingkat kesulitan paling tinggi. Memilih dan mencampur warna menjadi hal yang menyulitkan. Kemiripan warna kulit manusia, kehalusan goresan, menjadi sesuatu yang mahal buat saya.
Dalam keadaan seperti itulah kemudian saya mulai memikirkan cara melukis atau menggambar wajah manusia dengan cara yang lebih mudah. Cara yang memungkinkan saya menghindarkan diri dari keharusan mengolah warna kulit manusia yang sulit, cara tanpa tuntutan ketrampilan yang memadai untuk memulas.
Saya yang sejak masa sekolah sangat menyukai pelajaran ilmu ukur ruang (stereometri), mulai mengutik-utik masalah titik, garis dan bidang. Mulailah saya membayangkan wajah manusia sebagai kumpulan bidang-bidang datar yang dibentuk oleh garis-garis imajiner.
Cukup panjang proses yang saya lalui sebelum mendapatkan bentuk dan cara membuatnya seperti yang sekarang. Tapi perjalanan itu saya tapaki dengan antusias karena semakin lama perjalanan itu semakin memberi keyakinan akan tercapainya apa yang saya inginkan. Cara memprosesnya juga mengalami perubahan yang signifikan. Cara manual dan cara yang menggunakan komputer. Perlu diketahui, pada waktu itu sekitar tahun 1990-1991, komputerisasi belum merata menjamah majalah tempat saya berkarya. Saya sendiri baru mengenal komputer sekitar tahun 1998.
Di dalam proses manual saya menemukan cara yang mudah dan semakin mudah. Tapi semakin mudah cara yang saya temukan, saya semakin ragu untuk mengatakan bahwa apa yang saya hasilkan ini cukup bernilai untuk disebut sebagai karya seni. Walaupun pada kenyataannya karya saya ini mulai digemari pembaca, bahkan pada beberapa kesempatan banyak musisi dunia mengagumi karya saya. Grup Scorpion, Metallica atau James Ingram adalah beberapa nama yang masih saya ingat, tetap saja saya menganggapnya hanya sebagai karya yang paling mudah membuatnya untuk memenuhi tugas saya sebagai illustrator.
Kalau saya merasa mudah, tentu banyak orang yang akan menganggapnya begitu. Kalau prosesnya mudah tapi hasilnya cukup menarik, tidak mustahil para perupa lain sudah lebih dahulu menekuninya sebelum saya. Perasaan inilah yang membelenggu saya untuk tidak mempublikasikannya secara luas, kecuali untuk pengisi halaman 3 majalah saya. Bahkan perasaan ini nyaris mengkristal ketika seorang teman mengkritik saya sebagai seorang yang berkesenian secara akal-akalan.
Syukurlah, memasuki tahun 2007, beberapa orang kenalan berhasil meyakinkan saya bahwa mereka sampai sekarang masih menyukai dan merasa kangen dengan tampilnya lagi karya yang pada mulanya saya beri nama Foto Marak Berkotak itu. Bahkan ada pemerhati karya saya yang telah lama ingin menemui saya untuk menuntaskan rasa penasarannya pada karya saya. Ya, mereka yang sejak duduk di bangku sekolah menyukai karya saya, telah secara perlahan mencairkan belenggu yang saya ciptakan sendiri.
Puncaknya terjadi pada hari Jum’at 22 juni 2007. Seorang Ketua jurusan DKV Universitas Multimedia Nusantara bernama Gumelar yang hari itu sengaja saya temui, mengatakan bahwa beliau yang sudah melanglang jagad itu baru kali ini melihat karya semacam karya saya. Saya layak melabelkan gaya ini sebagai gaya Wedha, lanjutnya, dan bahkan saya berkewajiban untuk meluaskan gaya saya ini (yang dikatakan sebagai terobosan baru) dalam bentuk buku kepada semua orang, agar ada yang melanjutkan kelak bila saya sudah tiada. Terimakasih saya yang teramat dalam kepada semua pemerhati karya-karya saya, khususnya Ade Darmawan, direktur komunitas Ruang rupa, Meniek, Pak Gumelar, Pak Djoko Hartanto dan rekan kerja saya, Angky Astari.
Embrio Gaya Wedha
Karya-karya awal gaya ini sudah didominasi oleh bidang-bidang geometrik yang saya bentuk dengan goresan bebas (free hand stroke) dan menggunakan medium crayon. Pewarnaannya sudah meninggalkan pakem warna kulit manusia, juga dengan stroke bebas. Pembidangan pada karya ini mengikuti intuisi saya pada saat saya mengamati wajah seseorang (biasanya figur-figur terkenal di bidangnya masing-masing), melalui fotonya. Saya berusaha keras menangkap ekspresi figur yang saya hadapi lewat beberapa foto.
Saya buang jauh konsep realisme. Proses ini kental unsur intuisinya. Sosoknya sendiri banyak mengalami deformasi yang saya tafsirkan dengan penyangatan bentuk. Tahap ini berjalan beberapa bulan saja. Sayang di buku ini saya hanya bisa menampilkan dua diantara karya yang telah saya buat. Yang pertama, Freddy Mercury dari Queen, sedang yang kedua, maaf, saya sendiri lupa siapa figur yang saya lukis ini. Tapi masyarakat pembaca masih adem-adem saja menerimanya, mungkin karya dengan gaya ini sudah dianggap biasa karena saya lihat juga gaya ini sudah sering muncul di beberapa majalah terbitan luar negeri. Gambar 1.

Waktu terus berjalan. Ada dorongan bathin untuk lebih menguatkan unsur garis, sesuai dengan kelengkapan sebuah komposisi, ada garis, ada bidang. Intuisi yang mendasarinya masih sama. Dengan medium poster color, garis-garis kuat ini saya terapkan ketika saya melukis wajah David Foster yang ketika itu berkunjung ke majalah kami, dan juga untuk Bob Geldof. Tapi kemudian, saya merasa tampilan gari-garis itu tidak menyatu dengan warna. Dan kalau dihubungkan dengan pewarnaan, terasa tampilan garis itu berlebihan. Warna-warna yang memang sudah berbeda, bila disandingkan otomatis akan membentuk garis pemisah sendiri, walaupun garis pemisah itu imajiner. Inilah sebabnya kenapa tampilnya garis nyata yang tegas terasa belebihan. Gaya dengan garis kuat ini hanya tampil 2 kali. Gambar 2.

Saya memasuki perkembangan baru. Kalau dua warna berbeda yang berdampingan sudah bisa menimbulkan garis imajiner, buat apa dibuat garis lagi? Dengan pemikiran ini, saya hilangkan tampilan garis. Tapi untuk lebih menguatkan garis imajiner atau garis pemisahan antar 2 bidang warna, pada karya-karya tahap ini saya sengaja menggunakan penggaris. Jadilah wajah-wajah seorang pelari pemenang medali emas Olympiade dari Kenya (maaf namanya lupa), Jack Nicholson, Whoopie Goldberg, Al Pacino dan seorang lagi yang saya lupa nama dan profesinya. Gambar 3.

Tapi sayangnya, tidak semua orang mengenali wajah keempat figur yang saya buat. Hanya orang-orang tertentu atau mereka yang kebetulan melihat potret aslinya saja yang mengenali siapa yang saya lukis. Ada yang kurang tepat pada konsep tahap ini. Penafsiran saya terhadap ekspresi wajah yang saya lukis mungkin saja berbeda dengan penafsiran sebagian besar masyarakat. Sebagai perupa terapan, saya merasa tidak bahagia kalau karya saya ternyata hanya komunikatif dengan sebagian kecil masyarakat pemirsa.
Pada periode inilah saya memberi nama Foto Marak Berkotak (FMB) untuk gaya ini. Nama itu saya perlukan untuk sekedar membedakan jenis ini dengan jenis-jenis lain yang secara simultan saya lakukan. Ya, saya kira jenis ini agak berbau seni murni.
Cukup lama saya berpikir untuk mencari pemecahan masalah perbedaan persepsi ini. Saya telaah lagi hasil karya saya sendiri. Mungkin Anda setuju kalau saya katakan bahwa secara anatomis, wajah-wajah pada karya saya itu tampak berantakan, walau tidak seberantakan Woman-nya Picasso. Dalam perenungan, wajah yang berantakan ini menjadi topik utama. Berantakannya Picasso adalah sah karena dia seorang fine artist. Tapi bagi saya yang perupa terapan tentu menjadi masalah ketika karya saya berhadapan dengan komunikan.
Kemudian ada pula godaan di dalam untuk bersikap sebagai seniman murni. Masyarakat kenal atau tidak siapa yang saya lukis, suka atau enggak pada gaya yang saya buat, saya nggak peduli. Yang penting saya sudah melampiaskan intuisi saya, selesai. Kalau saya ikuti godaan itu, jelas akan lebih mudah bagi saya untuk berkarya. Tapi akhirnya saya tepis juga godaan itu. Saya pikir kalau saya bersikap seperti itu, apakah saya tidak terlalu egois?
Kembali pada perbedaan persepsi antara saya dan pemirsa karya saya. Inikah masalah yang harus saya pecahkan itu? Kalau iya, apa solusinya? Pertanyaan yang cukup menyulitkan! Waktu itu saya mencoba introspeksi. Mungkin pada penggarapan karya pada tahap ini saya terlalu memanjakan intuisi seni saya sendiri. Pemanjaan intuisi ini saya lakukan pada 2 aspek penting dalam lukisan saya; aspek warna dan aspek penyangatan bentuk (deformasi).
Dari masukan yang saya peroleh, ternyata aspek deformasilah yang membuat karya saya ini berjarak dengan sebagian pemirsanya. Mereka belum bisa menangkap apa yang saya tangkap yang kemudian saya persembahkan di hadapan mereka. Seberantakan apapun posisi atau proporsi masing-masing elemen wajah, saya tetap mengenalinya. Saya tetap menangkap ekspresi Al Pacino atau Jack Nicholson disitu karena memang saya sendiri yang membuatnya begitu. Tapi bagaimana dengan sebagian besar komunikan karya saya?
Sementara aspek pewarnaan yang nyleneh justru mendapat respon positip. Saya sedih karena sebagian pemirsa masih berjarak. Saya ingin semua orang di jagad raya ini, tanpa kecuali bisa menyukai atau paling tidak bisa menerima karya saya ini. Saya membuat karya ini bukan untuk saya simpan sendiri. Saya ingin berbagi. Di sini kepekatan saya sebagai seniman terapan diuji. “Seni terapan berorientasi pada publik”, di dalam benak saya, kata-kata itu selalu beradu kuat dengan kata “setiap insan berhak memanjakan intuisi pribadinya”.
Saya tau, saya harus memilih. Tapi masalahnya,yang mana? Demi penerimaan masyarakat yang lebih luas, akhirnya saya memenangkan kata-kata pertama. Saya harus berorientasi pada publik, walaupun dalam batas tertentu saya masih merasa punya hak untuk mendikte publik dengan intuisi pribadi saya.
Walau keputusan sudah saya ambil, tapi masih ada soal lain yang berkaitan dengan dengan hal itu. Pada aspek mana saya harus kompromis dengan publik dan seberapa jauh hal itu bisa saya lakukan?. Pertanyaan yang sama untuk aspek yang harus saya pertahankan.
Pertanyaan ini akhirnya terjawab ketika saya mengingat pengalaman-pengalaman di masa lalu. Ketika kita melukis potret seseorang, tingkat kemiripan tidak tergantung pada warnanya tapi pada bentuk atau proporsi yang secara anatomis benar. Anda pasti akan tetap mengenali wajah seseorang dengan tampilan full color walaupun kemudian mode warnanya Anda ubah menjadi grayscale. Jadi yang bisa saya pertahankan penuh adalah gaya pewarnaan saya. Sedang untuk bentuk/proporsi, saya harus kompromis. Kompromis dalam arti, secara global bentuk wajah, posisi elemen-elemen anggota wajah dan proporsinya harus tetap sama dengan potret aslinya, tapi detail pembidangan tetap di tangan intuisi saya.